Mengenal Advokasi Negatif dan Positif dari BPIP

  • Whatsapp
Advokasi Positif BPIP
Plt Deputi Hukum Advokasi dan Pengawasan Regulasi BPIP, Dr Ani Purwanti (Tengah) mengikuti kegiatan Advokasi Positif BPIP di Kabupaten Lumajang , Jawa Timur, Minggu, 27 September 2020. (BPIP For Nusadaily.Com)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Ada dua fungsi advokasi bagi masyarakat yang dimiliki Badan Pembinaa Ideologi Pancasila (BPIP) yaitu Advokasi Positif dan Negatif. Sejalan dengan hal tersebut badan yang menangani Ideologi Pancasila memiliki Direktorat advokasi memiliki tiga sub-direktorat, yang salah satunya adalah Direktorat Pendampingan.

Hal tersebut di ungkapkan oleh Plt Deputi Hukum Advokasi dan Pengawasan Regulasi BPIP Dr Ani Purwanti di sela acara Advokasi Positif BPIP. Acara yang bertajuk Pembekalan Nilai-Nilai Pancasila Kepada Pegiat Kampung di Kabupaten Lumajang , Jawa Timur, Minggu kemari. (27/9).

Baca Juga

Menurut Ani Purwati, untuk yang advokasi negatif, BPIP memberikan pendampingan secara hukum kepada masyarakat yang mengalami masalah atau yang merasa nasionalisme terusik.

Diapun mencontohkan kasus anak sekolah tak mau hormat bendera dan menyanyikan lagu Indonesia di Malang, Jawa Timur. Sekolah ini memberikan tindakan terhadap siswa tersebut.

Namun, tindakan dari sekolah itu tak diterima oleh orang tua siswa dan menggugat pihak sekolah secara hukum ke pengadilan. Pihak sekolah kemudian mengajukan surat secara resmi ke BPIP untuk meminta pendampingan hukum.

“BPIP pun sekarang sedang berproses mendampingi pihak sekolah dalam persidangan,” kata Ani

Advokasi Positif

Sementara untuk advokasi positif, BPIP memberikan pendampingan dan dukungan kepada pihak-pihak yang atau kelompok masyarakat yang konsisten mengamalkan Pancasila dalam tindakan. Di mana, masyarakat bisa melihat dan meniru Pancasila dari orang-orang atau kelompok ini.

Seperti kelompok masyarakat yang tergabung dalam pegiat kampung tematik di Kabupaten Lumajang dan sekitarnya. Para pegiat kampung tematik ini melaksanakan dan mengamalkan gotong royong yang menjadi inspirasi dari Pancasila.

Karena, masyarakat di sini gotong royong bahu-membahu memanfaatkan sungai yang mengalir di kampung mereka dengan dibersihkan. Mencegah perilaku buang sampah sembarangan, dan mereka membuat karamba. Sehingga, mereka bisa melakukan budi daya ikan. Mereka juga bekerja sama dalam membuat kebun dan budi daya tanaman.

Mereka juga menularkan semangat gotong royongnya ini kepada pegiat kampung tematik lainnya. Tidak hanya di Lumajang, tetapi juga di kampung dari kabupaten/kota lainnya seperti Pasuruan, Probolinggo, dan Malang.

“Peran para pegiat kampung ini kita berikan apresiasi agar mereka bisa menjadi contoh para masyarakat di sekitarnya. Negara mengakui kiprah mereka dengan memberikan sertifikat,” kata Ani.

Masih kata Ani, pendampingan advokasi positif BPIP terhadap masyarakat ini dengan bekerja sama dengan Ikon Pancasila 2017 yaitu Bambang Irianto ke kampung-kampung tematik ini. Di mana, Bambang Irianto yang sudah lebih dulu membangun kampung tematik di Malang. Ikut membina pendirian kampung-kampung tematik di sejumlah daerah seperti di Lumajang dan sekitarnya.

“Jadi masyarakat pegiat kampung tematik ini kita damping dan kita beri dukungan,” kata Ani. (sir)

Post Terkait

banner 468x60