Destinasi Andalan Tanaman Hias, Disparta Kota Batu Luncurkan Mall Bunga Sidomulyo

  • Whatsapp
taman bunga batu
Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko berbelanja bunga dengan menggunakan troli di Mall Bunga Sidomulyo. Troli ini difasilitasi Disparta untuk memudahkan wisatawan ketika memborong bunga dengan jumlah yang cukup banyak.(istimewa)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – KOTA BATU – Kota Batu merupakan sentra tanaman hias nasional yang menjadi jujugan wisatawan dari berbagai daerah. Sentra wisata tanaman hias tepatnya berada di Desa Sidomulyo. Mayoritas sekitar lebih 80 persen masyarakatnya berprofesi sebagai petani bunga.

Potensi andalan ini digarap serius Dinas Pariwisata Kota Batu dengan melaunching Mall Bunga Sidomulyo (Rabu, 16/6). Hal ini menjadi langkah konkrit untuk mengembangkan desa wisata, salah satunya di Desa Sidomulyo sebagai sentra tanaman hias.

Baca Juga

BACA JUGA: Semarakkan Hari Bhayangkara, Disparta dan Polres Batu Berkolaborasi Gelar Tour Virtual Gowes Wisata Nasional

Pengembangan ini juga diikuti dengan penguatan kelembagaan desa wisata melalui peningkatan sumber daya manusia agar mencetak insan pariwisata. Sarana prasarana juga disediakan berupa kantor Desa Wisata Sidomulyo. Serta menyediakan 23 unit troli agar memudahkan wisatawan membawa barang dagangannya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Siddiq mengatakan, sentra wisata bunga Desa Sidomulyo patut dikembangkan. Karena itu sarana prasara yang lengkap sangat dibutuhkan untuk memperkuat kelembagaan desa wisata.

“Kawasan Mall Bunga Sidomulyo ini seluas 5 hektar berada di Dusun Sidomulyo, Desa Sidomulyo,” kata Arief.

Tanaman-tanaman hias yang diperdagangkan merupakan milik warga setempat yang mayoritas mata pencahariannya sebagai petani bunga. Konsep mall bunga ini juga sebagai terobosan dalam meningkatkan kualitas pelayanan bagi wisatawan.

Selain itu, Disparta akan berkolaborasi dengan pihak ketiga untuk memanfaatkan dana CSR dalam pengembangan desa wisata. Pihaknya optimis, Desa Sidomulyo bisa menjadi destinasi andalan karena apa yang ditawarkan memiliki keunikan dan karakteristik berbeda dengan daerah lainnya.

“Di sini ada 17 paket daya tarik potensi andalan untuk memajukan Desa Wisata Sidomlulyo. Makanya kami juga memberikan pendampingan berkesinambungan dalam meningkatkan SDM, yang tak kalah pentingnya,” papar Arief.

Dinas Pariwisata juga bekerja sama dengan Bank Jatim untuk mekanisme pembayaran. Wisatawan yang membeli bunga di Mall Bunga Sidomulyo tak perlu menggunakan uang tunai. Mereka dapat bertransaksi dengan memanfaatkan layanan quick response code Indonesian standard (QRIS).

“Jadi pembayarannya digital. Tnggal memindai kode barcode yang telah diberikan kepada petani bunga,” urai Arief.

Konsep Mall Bunga Desa Sidomulyo ini disambut baik petani. Salah satunya Sutikno. Diharapkan juga dengan peningkatan layanan ini turut mengangkat kesejahteraan masyarakat setempat. “Ya menguntungkan bagi kami,” imbuh dia.

Ia mengaku metode pembayaran digital masih tergolong baru bagi dirinya maupun petani setempat. Terhitung ada 100 orang petani yang menjual bunga hias di area mall itu. “Pembayaran digital hanya ditujukan kepada wisatawan. Kalau suplier tetap konvensional pembayarannya,” ucap dia.

Di kebunnya terhampar berbagai tanaman hias yang terdiri dari 40 jenis tanaman. Ia mengaku memang selama pandemi ada penurunan namun tak terlalu signifikan. Penurunan omzet berkisar sekitar 20 persen saja. “Pandemi menurun jadi 80 persen. Rata-rata sebulan Rp 4-5 juta. Di masa normal bisa Rp 6-7,5 juta,” ungkap dia.

Launching Mall Bunga Sidomulyo ini diresmikan langsung Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko. Di masa pandemi ini, lanjut Dewanti segala aktivitas perekonomian dan aspek kesehatan harus berjalan seimbang. “Karena kesehatan dan keselamatan jiwa adalah yang utama. Gas dan remnya harus beriringan,” imbuh dia.

Sehingga diharapkan keberadaaan mall ini juga harus mentaati protokol kesehatan dan juga memberi efek kesejahteraan bagi masyarakat, utamanya petani bunga Sidomulyo. Ia berpendapat jika bisnis bunga hias turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Faktor ini dipengaruhi, permintaan yang melonjak ketika awal pandemi. Nilai bunga hias bergeser menjadi kebutuhan primer tatkala pandemi melanda. Bahkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional mengalahkan hasil pertanian sektor pangan.

“Justru tanaman hias melonjak tajam bukan dari pertanian pangan. Tanaman hias seperti kebutuhan primer di awal pandemi. Kami tak menyangka lonjakannya membawa pada pertumbuhan ekonomi luar biasa,” tutur Dewanti.

Tingginya permintaan tanaman hias menjadi keuntungan bagi Kota Batu yang menjadi sentra tanaman hias. Menurutnya Desa Sidomulyo ibarat surga yang memanjakan mereka yang memiliki hasrat berkebun. “Ini sentra bagi penghobi tanaman untuk mencari berbagai jenis tanaman hias,” ucap dia.

BACA JUGA: Disparta Kota Batu Ingin Tumbuhkan Wisata Kuliner Rakyat di Desa Mojorejo

Keramahan dan layanan yang baik, menurut Dewanti harus diberikan kepada wisatawan sebagai upaya mengembangkan desa wisata ini. Serta harus mengedepankan protokol kesehatan agar bisa menjaga sektor ekonomi dan kesehatan.

Salah satu bentuk layanan itu diwujudkan Disparta dengan menyediakan troli. Menurut Dewanti ini terobosan memudahkan wisatawan ketika memborong bunga dengan jumlah cukup banyak.

“Saya apresiasi terobosan mall bunga ini karena bisa menjadikan warga Sidomulyo sejahtera. Dilengkapi pula troli yang memudahkan wisatawan ketika membawa belanja cukup banyak. Saya harap fasilitas troli ini dirawat baik agar bermanfaat,” pesan dia. (wok/adv/wan)