Ada Pelajaran Berharga yang Harus Direnungkan dari Tutupnya Pabrik Sepatu Bata

"Dengan adanya keputusan ini, maka perseroan tidak dapat melanjutkan produksi di pabrik Purwakarta," katanya seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (3/5).

May 14, 2024 - 08:28
Ada Pelajaran Berharga yang Harus Direnungkan dari Tutupnya Pabrik Sepatu Bata

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Produsen sepatu legendaris Bata yang sudah ada di Tanah Air sejak 1931 itu terus merugi hingga penutup operasional pabrik di Purwakarta, Jawa Barat per 30 April 2024.

Bagai menimba air dengan keranjang, peribahasa ini cukup menggambarkan apa yang terjadi di PT Sepatu Bata Tbk; segala sesuatu yang dikerjakan dengan tidak sesuai akan berbuah sia-sia.

Corporate Secretary Sepatu Bata Hatta Tutuko menuturkan pihaknya telah melakukan berbagai upaya selama empat tahun terakhir di tengah kerugian dan tantangan industri akibat pandemi Covid-19.

Di satu sisi, perubahan perilaku konsumen yang begitu cepat juga menjadi tantangan.

Selain itu, permintaan pelanggan terhadap jenis produk yang dibuat di pabrik Purwakarta terus menurun. Karenanya, perseroan pun tak mau kembali melempar dadu, akhirnya menutup pabrik.

"Dengan adanya keputusan ini, maka perseroan tidak dapat melanjutkan produksi di pabrik Purwakarta," katanya seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (3/5).

Kendati demikian, ia tak merinci berapa kerugian yang diderita oleh perusahaan.

Hatta hanya mengatakan kapasitas produksi pabrik jauh melebihi kebutuhan yang bisa diperoleh secara berkelanjutan dari pemasok lokal di Indonesia.

Penutupan pabrik di Purwakarta itu pun membuat 233 karyawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Di satu sisi, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menilai penutupan dilakukan karena perusahaan berupaya untuk membenahi perusahaan yang merugi akibat pembengkakan beban operasional.

"Dia (Bata), boleh saya sampaikan sedang melakukan upaya transformasi digitalisasi dan mereka meng-adjust kegiatan bisnisnya untuk lebih efisien," ujarnya.

Ia menambahkan perusahaan sebenarnya sudah menjual sebagian aset untuk bertahan dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, kondisi perusahaan tak juga membaik sehingga mereka memutuskan untuk menutup pabrik.

Pengamat marketing sekaligus Managing Partner Inventure Yuswohady menilai tutupnya pabrik sepatu Bata di Purwakarta tak sesederhana itu.

Ia menuturkan sejak 1990 an sejatinya brand asal Cekoslowakia ini sudah mengalami penuaan sistematis karena kurang lincah merespons perubahan.

Padahal, Bata sebagai global brand mengalami brand localization; jatuh dipersepsi sebagai brand lokal. Keuntungannya, Bata menjadi dekat dengan masyarakat Indonesia.

Namun kerugiannya fatal, yakni persepsi kualitas dan image-nya jatuh dianggap brand medioker.

"Awalnya brand ini global tapi melokal. Itu sebenarnya bagus, tapi dalam kasus Bata, malah segemennya menjadi menengah bawah," kata Yuswohady dikutip dari CNNIndonesia.com, Senin (13/5).

Yuswohady pun menilai Bata telah babak-belur oleh terjangan triple disruption, yakni; digital, millennial, dan pandemic disruption.

Ia menjelaskan terkait digital disruption, Bata terlambat dan terlalu lamban melakukan digitalisasi proses operasinya.

Padahal di sisi mereka, telah muncul pemain-pemain UKM atau brand lokal yang fresh dan agile.

Yuswohady mencontohkan brand ini seperti Compass, Brodo, hingga Aero Street yg lincah memanfaatkan teknologi digital untuk membangun daya saing.

"Pemain-pemain agile ini begitu lincah memanfaatkan digital channel, digital community, FOMO, hingga virality untuk mencuri pangsa pasar. Pemain jadul (zaman dulu) seperti Bata pun tergusur," jelasnya.

Lalu, terkait disrupsi milenial Yuswohady mengatakan Bata juga gagal paham merespons perubahan perilaku dan preferensi konsumen muda milenial/zilenial.

Menurutnya, generasi konsumen baru ini sejak 10 tahun terakhir masif melibas konsumen gen-X dan boomers yang merupakan pasar utama Bata.

Ia juga berpendapat perusahaan yang didirikan oleh Tomas Anna dan Antonin Bata itu tak bisa memanfaatkan tren besar 'sneakers wave'.

Tren di mana milenial/zilenial beramai-ramai menggandrungi sneakers.

"Ketika Bata tak bisa mengkaderisasi konsumen, dan konsumen itu meninggalkan dia, maka dia mau tidak mau akan tak relevan dengan generasi itu sehingga dia kehilangan basis konsumen," ujar Yuswohady.

Selanjutnya, terkait pandemi disruption, Bata terkena pukulan yang kian telak saat pagebluk itu melanda pada 2020 lalu.

Maklum, basis penjualan Bata mayoritas masih pada gerai atau toko-toko offline. Di sisi lain, gerai-gerai itu mayoritas berada di second city atau wilayah yang menjadi penyangga kota Besar.

"Karena Bata banyak chanelnya fisik, maka ketika pendemi datang 2020, ketika orang tidak ke toko, maka penjualannya drop. Makanya empat tahun berturut-turut merugi," tutur Yuswohady.

Klaim Yuswohady itu tak asal-asalan. Lihat saja, berdasarkan laporan keuangan tahunan perusahaan, Bata mengalami kerugian ratusan miliar rupiah sejak 2019.

Penjualan perseroan Bata anjlok 49 persen dari Rp931,27 miliar pada 2019 menjadi Rp459,58 miliar pada 2020. Hal itu membuat kerugian tahun berjalan Bata yang 2019 hanya Rp23,44 miliar melonjak ke angka Rp177,76 miliar pada 2020.

Sedangkan pada 2023 Bata mencatatkan rugi usaha sebesar Rp148,3 miliar, sehingga perusahaan mencatatkan rugi tahun berjalan sebesar Rp190,6 miliar.

Kerugian yang dialami di tahun itu terutama disebabkan oleh impairment terhadap aset tetap dan persediaan barang yang sudah masuk masa aging.

Selain merugi, Bata juga mulai memangkas produksi sepatu ataupun sandal dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2021, perusahaan memproduksi 1.578.000 juta pasang sepatu/sandal. Lalu pada 2023 perusahaan hanya memproduksi 1.153.000 pasang.

"Bata adalah kisah tragis betapa brand global yang hebat sekalipun akhirnya terpuruk ketika ia tak agile, adaptif, dan relevan," kata Yuswohady.

Berkaca dari kasus Bata itu, ia pun mengatakan tak menutup kemungkinan hal serupa bisa menimpa brand-brand besar lainnya di Tanah Air. Oleh karena itu, mereka harus bisa mengambil pelajaran.

Pelajaran itu seperti brand harus selalu adaptif dengan zaman dan perilaku konsumen. Apalagi, di era digitalisasi dan media sosial seperti saat ini muncul-tenggelam sebuah brand makin cepat.

"Jadi hati-hati brand yang legendaris. Itu brand meski sudah lama, termasuk Bata, dengan konsumen milenial yang gampang bosan, mereka (brand) bisa saja tidak relevan dengan generasi baru," katanya.

Sementara itu, Kepala Center of Industry, Trade and Investment INDEF Andry Satrio Nugroho berpendapat tutupnya pabrik sepatu Bata tak lepas dari ketidakpekaan pemerintah terhadap kondisi industri saat ini.

Ia mengatakan selain menurunnya permintaan, impor bahan baku tekstil dan produk tekstil (TPT) dikenakan pembatasan. Hal ini pun menyulitkan pelaku industri untuk mendapat bahan baku.

"Ini menurut saya jadi masalah ketika kita bicara mengenai bahwa tentunya ada sejumlah regulasi yang pada akhirnya menyulitkan industri ini dapat bahan baku dan menurut saya pemerintah gak peka terhadap hal tersebut, tak melakukan evaluasi," kata Andry.

Ia pun menilai hal tersebut tidak bisa dibiarkan. Pasalnya, pelaku industri lama-lama tidak mau berproduksi.

Pelaku industri, kata Andry, pada akhirnya lebih memilih menjadi importir barang jadi untuk dijual di Tanah Air.

Hal ini malah bertolak belakang dengan visi Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait hilirisasi dan industrialisasi.

"Ini harus dicermati bahwa masalah-masalah seperti ini harusnya ada yang diperbaiki dalam melihat kebijakan industri, salah satunya padat karya yang memiliki cukup banyak tenaga kerja di dalamnya," jelasnya.

Ia lantas mengingatkan pemerintah untuk tidak menutup mata dan telinga. Pemerintah harus peka terhadap masalah industri saat ini.

Paling tidak, pemerintah tak membuat regulasi yang malah menyulitkan pelaku industri.

"Regulasi yang dikeluarkan pemerintah celakanya justru menurut saya malah seperti semuanya disatukan jadi satu. Ada industri yang mungkin diuntungkan adanya lartas (larangan dan pembatasan), tapi bisa jadi industri lain terdampak," kata Andry.

"Ini harus ada keseimbangan dan regulasi tidak bisa geber seperti itu, harus ada pembeda antara satu sektor dengan sektor lainnya," imbuhnya.(han)