Ada Kecemburuan Pengusaha Lokal saat Pemerintah Siapkan Karpet Merah Buat Elon Musk

Tuduhan predatory pricing pun mencuat. Bahkan, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) meminta pemerintah membekukan izin penjualan Starlink dan meninjau pemberian lisensi penyedia layanan internet satelit tersebut.

Jun 11, 2024 - 09:57
Ada Kecemburuan Pengusaha Lokal saat Pemerintah Siapkan Karpet Merah Buat Elon Musk

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Starlink milik Elon Musk membuat Indonesia heboh, bahkan tak sedikit pengusaha telekomunikasi lokal yang kebakaran jenggot takut kalah saing.

Agenda Musk ke Indonesia pada Mei 2024 lalu, salah satunya untuk uji coba internet Starlink di Puskesmas Pembantu (Pustu) Sumerta Kelod, Denpasar, Bali.

Layanan internet milik Space X itu digembar-gemborkan 'sakti' karena sanggup menjamah wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Starlink pun sempat banting harga di Indonesia untuk sementara, yakni sampai 10 Juni 2024. Musk mendiskon harga perangkat Starlink yang semula Rp7,8 juta menjadi Rp4,6 juta.

Tuduhan predatory pricing pun mencuat. Bahkan, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) meminta pemerintah membekukan izin penjualan Starlink dan meninjau pemberian lisensi penyedia layanan internet satelit tersebut.

Meski begitu, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) sebagai salah satu perusahaan lokal penyedia internet merespons dengan bijak.

Direktur Utama Telkom Indonesia Ririek Adriansyah menegaskan kehadiran Starlink akan saling melengkapi dengan menara Base Transceiver Station (BTS).

"Saya yakin Starlink ini pun akan saling complement. Starlink pasti akan lebih efektif untuk di daerah 3T, karena di daerah 3T itu untuk kita menggelar BTS juga terlalu mahal, sangat costly. Sehingga kita butuh satelit," ucapnya dalam Konferensi Pers Digiland Run 2024 di Jakarta, awal pekan ini.

Ririek mengatakan teknologi fiber optik sangat bermanfaat di wilayah perkotaan yang penduduknya padat.

Fiber optik punya kapasitas sangat besar dibandingkan dua teknologi lain, yaitu mobile dan satelit. Tetapi, fiber optik tidak efisien di wilayah dengan kepadatan penduduk rendah.

Menteri BUMN Erick Thohir juga menegaskan bahwa persaingan harus terjadi di antara berbagai penyedia layanan internet.

Akan tetapi, Erick mewanti-wanti agar regulasinya bisa tetap menguntungkan Indonesia.

"Persaingan harus terjadi, tapi pajak harus dibayar di sini, pembukaan lapangan pekerjaan harus ada di sini, transfer teknologi harus ada dan perlindungan konsumen," kata Erick di Gedung DPR, Jakarta Pusat, Jumat (7/6).

Sikap Erick ini berbeda dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Luhut yang memang getol melobi Elon Musk berinvestasi di Tanah Air itu menilai Starlink bisa membantu masyarakat dalam mendapatkan layanan internet, pendidikan, hingga kesehatang lebih baik, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Pasalnya, layanan internet berbasis satelit membuat menara Base Transceiver Station (BTS) tak lagi diperlukan. Biaya telekomunikasi juga bisa lebih murah.

Pemerintah, sambung Luhut, membuka ruang bagi perusahaan telekomunikasi global dan nasional untuk berkompetisi agar masyarakat bisa mendapatkan layanan yang terbaik.

"Kalau kau nggak bisa berkompetisi ya salahmu. Tugas pemerintah memberikan services yang sebaik-baiknya kepada masyarakat," kata Luhut dalam talkshow di Menara Global, Jakarta Pusat, Selasa (4/6) lalu.

Ahli sekaligus Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB) Agung Harsoyo juga meluruskan salah kaprah Starlink yang beredar.

Meski, ia enggan ikut campur dengan manuver Indonesia mengundang Elon Musk.

Agung hanya menjelaskan kehadiran Starlink bersifat koeksisten dengan penyelenggara internet nasional.

Ia menekankan tidak tepat memversuskan layanan Internet berbasis seluler, fiber to the home (FTTH), dan Starlink.

"Sebagian besar pelanggan internet seluler maupun FTTH (fixed broadband) akan tetap berlangganan seluler maupun FTTH, minimal sampai lima tahun ke depan," prediksi Agung.

Menurutnya, penyedia layanan internet lokal bakal tetap eksis, meski ada Starlink.

Pasalnya, Agung menilai layanan internet milik Musk hanya akan mendapatkan pelanggan yang selama ini sulit terlayani oleh operator seluler atau layanan FTTH.

Agung melihat layanan Starlink bakal lebih unggul untuk daerah 3T. Meski, daya beli daerah 3T tidak sebaik di perkotaan.

"Jadi, idealnya tetap ada kerja sama dengan ISP lokal. Mungkin, Starlink untuk komunikasi kapal laut bisa jadi pemain dominan," tandasnya.

Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute sekaligus pengamat ekonomi digital Heru Sutadi melihat jelas ada karpet merah untuk Elon Musk.

Pemerintah Indonesia seakan menganakemaskan Space X yang mempunyai produk Starlink tersebut.

"Kalau kita dengar ceritanya kan ini sebagai upaya meyakinkan Elon Musk untuk investasi ekosistem mobil listrik (Tesla) di Indonesia," kata Heru mengutip CNNIndonesia.com, Senin (10/6).

"Elon Musk seolah agak enggan investasi karena bisnis Starlink seakan terhambat regulasi untuk bisa jualan langsung ke pengguna. Nah, ini kemudian dijawab dengan dikeluarkannya izin Starlink dengan harapan investasi Elon Musk di Indonesia segera terealisasi," tuturnya.

Namun, Heru ragu bakal terjadi persaingan usaha tidak sehat dengan pengusaha lokal.

Ketakutan ini tidak akan terjadi jika pemerintah memberikan hak dan kewajiban yang sama, antara Starlink dengan pemain internet lokal.

Heru justru memprediksi bisa muncul peluang kompetisi yang menarik. Kompetisi sehat yang terus dijaga bahkan bakal bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

"Kalau kompetisi tidak sehat, pelaku telekomunikasi, baik internet service provider (ISP) dan seluler perlahan akan tergerus dan dalam jangka menengah akan ada yang collaps. Sehingga pengawasan kompetisi sehat harus terus dilakukan," pesan Heru.

Secara teknis, ia menjelaskan teknologi satelit dengan teknologi serat optik dan seluler punya keunggulan serta kelemahan masing-masing.

Dengan begitu, teknologi dan layanan yang diberikan bakal saling mengisi atau menjadi komplementer satu dengan lainnya.

Heru mencatat pengguna Starlink di dunia saat ini baru mencapai 3 juta orang, yakni tersebar di 100 negara.

Ia menegaskan ini jauh lebih sedikit dari pengguna seluler Indonesia yang mencapai 353,3 juta, alias 100 kali lipat lebih banyak dari layanan Starlink.

"Artinya, tidak mungkin Starlink akan bisa menggantikan seluler sepenuhnya, bisa collaps layanan mereka. Sebab, ada korelasi antara jumlah pengguna dengan kecepatan internet yang mereka berikan," tegas Heru.

"Jadi, impossible layanan Starlink bisa menggantikan layanan seluler sepenuhnya atau seluler akan punah. Namun, tetap kompetisi sehat harus dijaga. Hak dan kewajiban harus sama, ada equal level playing field," pesannya kepada perumus kebijakan.

Layanan internet Starlink diklaim punya kecepatan tinggi imbas posisi satelitnya yang ada di orbit rendah Bumi. Orbit rendah dipilih demi menjangkau daerah yang tak ada fiber optik atau BTS.

Starlink pertama kali go public pada Januari 2015 lalu. Ini berbarengan dengan pembukaan fasilitas pengembangan SpaceX di Redmond, Washington, Amerika Serikat.

Satelit Starlink pertama kali diluncurkan ke angkasa pada 2019. Satelit ini mengorbit di tiga level ketinggian rendah atau Low Earth Orbit (LEO), yakni setinggi 340 km di atas permukaan Bumi, 550 km, dan 1.200 km.

Sedangkan satelit kebanyakan, termasuk milik pemerintah dan BUMN Indonesia, ditempatkan di orbit yang lebih tinggi alias Geostationary Orbit (GEO).(han)